Senin, 09 April 2012

Legenda Sigale-gale


Sumber: sinambelafamily.wordpress.com

Penulis: Bisuk Siahaan, BATAK TOBA: Kehidupan di Balik Tembok Bambu, Jakarta: Kempala Foundation, 2005
Wawancara:
Jimmy Sigiro (Ama Senton) adalah salah seorang yang memainkan patung sigalegale. Istrinya boru Sidabutar yang merupakan keturunan ketujuh belas dari Raja Sidabutar.

I. Pendahuluan
Tapanuli sebagai kampung halaman suku Batak memiliki berbagai cerita rakyat sebagaimana cerita rakyat yang dimiliki suku-suku lain di Indonesia.  Berbagai peristiwa dalam kehidupan, secara tidak langsung dapat menjadi sebuah bentuk cerita yang disampaikan secara lisan, baik dari orang tua kepada anak atau pun dari satu kampung ke kampung yang lain.

Faktor alam atau lingkungan merupakan salah satu penyebab terbentuknya suatu model atau gaya dari suatu daerah, begitu pula yang dialami oleh orang Batak. Faktor alam mereka mempengaruhi gaya hidup dan juga bentuk kepercayaannya. Cerita-cerita yang terus diwarisi dari generasi ke generasi merupakan cara untuk tetap menjaga tradisi dan juga supaya tidak punahnya sejarah kehidupan bangsa tersebut.
Legenda-legenda yang merupakan bentuk dari cerita kehidupan masyarakat menjadi suatu pedoman untuk mengatur atau mengarahkan kehidupan untuk lebih baik. Legenda-legenda masyarakat sungguh banyak, misalnya Legenda Batu Gantung, Legenda Tunggal Panaluan, Legenda Danau Toba, Asal Mula Orang Batak, Legenda Sigalegale dan lain sebagainya. Kesemuanya itu adalah cerita-cerita yang mempengaruhi kehidupan orang Batak dalam kebudayaan dan kepercayaan mereka. Untuk hal itulah maka kami dari kelompok akan menyajikan salah satu legenda Batak yang mempengaruhi sistem kehidupan kebudayaan dan kepercayaan orang Batak. Ada pun legenda yang kami akan ceritakan adalah legenda Sigalegale yang memiliki makna budaya dan kepercayaan masyarakat Batak seluruhnya terkhusus masyarakat Batak di Toba.
II. Cerita Sigalegale
Pada masa yang silam, apabila seorang terkemuka meninggal sebelum mempunyai anak sebagai penyambung keturunan, dianggap merupakan kesialan. Untuk mencegah supaya nestapa seperti itu tidak berulang kembali, maka diadakanlah tarian duka menggunakan boneka dari kayu.
Boneka tersebut bentuknya seperti manusia, kepalanya dilumuri dengan kuning telur. Giginya dicat hitam menggunakan jelaga baja, pada lekuk mata dilekatkan buah berwarna merah. Boneka diberi pakaian ulos Batak, di atas kepalanya dilekatkan rambut kuda atau ijuk, atau diberi ikat kepala. Selanjutnya boneka diletakkan di atas papan beroda, lalu ditarik berkeliling kampung. Kaum kerabat memeluk boneka sambil menangis tersedu-sedu, sebagai tanda perpisahan untuk selamanya. Jika boneka duka diarak di kala terang bulan, akan membawa suatu perasaan pilu dan mengharukan. Pada malam terakhir acara tari-tari duka itu, boneka dibawa keluar kampung, lalu dicampakkan ke Danau Toba, maksudnya supaya di masa yang akan datang, tidak berulang lagi nasib seperti yang dialami oleh keluarga yang malang itu.
Sigalegale adalah sebuah patung yang terbuat dari kayu. Konon, kayu yang digunakan untuk membuat patung tersebut adalah “Hau Pokki” (Kayu Pokki). Di daerah Kalimantan, kayu tersebut dikenal dengan sebutan “Kayu Ulin” (Kayu Besi). Berdasarkan informasi yang ada, pada tahun 1980-an, Sigalegale dimainkan dengan diiringi Gondang Hasapi (Alat musik yang menggunakan alat musik kecapi, dan dalam memainkan Gondang Kecapi ini sangat diperlukan unsur perasaan. Alasannya adalah karena Gondang Kecapi ini terkesan lebih syahdu dan lembut) dan bukan Gondang Bolon (Alat musik yang tidak menggunakan alat musik kecapi) dan tidak lagi mengandung unsur mistis. (Dulu, pada waktu Dr. I. L. Nommensen datang ke tanah Batak, Gondang Bolon tersebut adalah salah satu kebudayaan yang sangat ditentang oleh Nommensen dari sekian banyak kebudayaan lainnya, karena dulu pemakaian Godang Bolon tersebut identik dengan magis atau mistik). Pertunjukan Sigalegale pun sudah menggunakan tali yang kemudian ditarik oleh dua orang dalang dan lima orang pemain musik.
Seiring dengan majunya zaman, apalagi di zaman sekarang ini, maka dengan sendirinya pemikiran manusia pun akan berubah, terutama dalam hal kebudayaan. Akhirnya, keinginan masyarakat untuk menyaksikan pertunjukan Sigalegale pun semakin berkurang dan dalang yang memainkan Sigalegale ini pun berkurang menjadi satu orang dan alat musik yag digunakan pun menjadi alat musik yang sudah dikasetkan.
Tidak ada sumber yang pasti untuk legenda Sigalegale ini. Banyak versi yang beredar untuk menceritakan legenda tersebut. Namun semuanya itu mengandung makna dan pesan yang sama. Untuk itu kami memilih beberapa cerita yang memiliki cerita yang memiliki kesamaan dan juga lebih menyentuh kepada kepercayaan dan kebatinan.
Menurut cerita dari bapak Jimmy Sigiro seorang dalang patung Sigalegale asal mula boneka duka (Sigalegale) itu adalah sebagai berikut:
Sekitar ± 300 tahun yang lalu, seorang keturunan si Raja Batak yaitu Raja Rahat yang konon adalah seorang raja yang kaya dan memiliki banyak tanah yang berada ± 50 Km dari Tomok, di sekitar pegunungan Desa Lumban Suhi (saat ini kerajaan itu sudah tidak terlihat lagi). Si Raja Rahat hanya memiliki satu orang anak saja yaitu si Raja Manggele. Pada usianya yang menjelang dewasa, ± 15 – 16 tahun, si Raja Rahat memerintah si Raja Manggele untuk memperluas daerah kekuasaannya, yang mana dalam hal itu mereka harus berperang. Menurut cerita, si Raja Manggele adalah seorang anak yang patuh kepada orang tuanya, sehingga dia pun menyanggupi perintah ayahnya tersebut.
Kemudian ia bergegas pergi ke daerah yang hendak dikuasai, bersama dengan prajurit-prajurit ayahnya. Melihat semangat si Raja Manggele, si Raja Rahat sangat senang melihat anaknya dan ia sangat mengasihi si Raja Manggele. Namun, kebahagiaan dan kesenangan itu tidak bertahan lama. Dalam peperangan itu Raja Manggele terkena musibah. Ia terkena panah sehingga terluka cukup parah. Pada saat itu, Raja Manggele masih sempat bertahan dan masih sempat diobati oleh “datu-datu (Dukun)”. Namun sangat disayangkan, usaha para datu tersebut ternyata sia-sia. Mereka tidak mampu untuk mengobati luka yang dideritanya, sehingga si Raja Manggele pun meninggal. Berita kematian Raja Manggele itu tersiar ke seluruh lapisan masyarakat. Kemudian sampailah kabar ini kepada si Raja Rahat dan ia pun sangat terkejut dan sangat menyesal karena telah menyuruh anaknya untuk ikut berperang. Setiap hari si Raja Rahat hanya bisa menangis. Ia prustasi dan bahkan kelihatan layaknya seperti orang gila. Si Raja Rahat menyalahkan dirinya karena ia yang telah mengakibatkan semua itu. Setiap hari si Raja Rahat hanya bisa meratap dan terdiam mengingat kejadian itu.
Pada saat itu sistem kehidupan masyarakat adalah apabila seorang raja mengalami musibah maka dengan sendirinya, masyarakat pun ikut sedih. Di kemudian hari, datanglah seorang datu kehadapan si Raja Rahat. Dia mencoba menghibur raja dengan mengusulkan untuk membuatkan baginya sebuah patung yang konon akan dibuat menyerupai wajah Raja Manggele, anaknya. Raja setuju dan proses pembuatan pun dilakukan. Namun datu itu tidak berhasil karena dia tidak memiliki kekuatan naturalis yang cukup untuk membuat patung itu. Akhirnya, ia mengumpulkan datu-datu besar sebanyak enam orang. (Menurut cerita dari Bapak Jimmy Sigiro, salah satu dari para datu yang membuat patung tersebut adalah marga Sinaga yang sampai saat ini masih hidup). Dengan ilmu kebatinan yang mereka miliki, mereka mencoba memahat kayu dan membuatnya persis menyerupai si Raja Manggele. Konon para datu tersebut tidaklah mengenal si Raja Manggele, namun dengan ilmu kebatinan yang mereka miliki, mereka mampu membuat sebuah boneka manusia yang terbuat dari kayu yang mirip dengan si Raja Manggele. Kemudian patung si Raja Manggele itu dipakaikan ulos serta tali pengikat kepala dengan tiga macam warna yaitu merah, hitam dan putih.
Setelah semuanya siap, kemudian patung si Raja Manggele tersebut dimasukkan kedalam peti. Hal itu dilakukan untuk masuk kedalam tahap berikutnya yaitu untuk menghidupkan patung itu. Ketujuh datu dengan bantuan pemain musik “Gondang Bolon” memanggil jiwa si Raja Manggele untuk merasuki patung tersebut. Kemudian, patung itu dapat bangkit dari peti itu dan patung tersebut mampu untuk menggerak-gerakkan badannya layaknya manusia (manortor). Gondang yang dipakai untuk memulainya adalah dimulai dari “Gondang Mulamula” sampai dengan “Gondang Hasahatan”. Melihat keberhasilan itu, akhirnya mereka berembuk untuk mempertunjukkan patung tersebut di hadapan si Raja Rahat. Kemudian mereka pun pergi ke halaman rumah si Raja Rahat dan mereka pun mulai membangunkan patung tersebut dengan bantuan alat musik Gondang Bolon. Di saat si Raja Rahat mendengar suara gondang tersebut, ia keluar dan turun ke halaman rumahnya untuk melihat apa yang sedang terjadi. Setelah melihat patung tersebut bisa “manortor” dan menyerupai anaknya si Raja Manggele, si Raja Rahat sangat senang melihat hal tersebut dan ia pun mulai tersenyum bahagia karena ia masih bisa merasakan anaknya seolah-olah hidup kembali. Oleh karena hal itu si Raja Rahat pun kemudian mengucapkan terimakasih kepada para datu yang telah berhasil membuat patung yang menyerupai anaknya itu. Si Raja Rahat pun menyimpan patung itu di dalam rumahnya. Sesekali, jika Raja rindu dengan anaknya si Raja Manggele, ia kembali memanggil ketujuh datu itu untuk mempertunjukkan dan mempertontonkannya di tengah-tengah masyarakat. Dengan melihat patung itu dapat “manortor” dengan lemah gemulai mengikuti irama gondang yang dimainkan oleh para datu, patung itu pun berubah nama yang dulunya adalah si Raja Manggele, kemudian diberi nama “Sigalegale”.
Sedangkan versi dari buku Batak Toba Kehidupan di Balik Tembok Bambu mengisahkan ceritanya adalah sebagai berikut.
Di dalam sebuah kampung di Toba, terjadi duka yang sangat dalam karena putra, tunggal seorang pemimpin yang terpandang meninggal dunia. Ayahnya sangat terpukul, karena tidak ada lagi anaknya yang akan meneruskan keturunan. Bagi orang Batak yang menganut paham patriarchal, kematian anak laki-laki satu-satunya itu berarti punahnya sebuah cabang keluarga. Si ayah sangat sedih dan sangat rindu kepada anaknya yang sudah meninggal, siang dan malam dia mengharapkan kalau saja dapat menatap wajah anaknya barang sekali saja. Pada suatu hari dia mengambil sepotong kayu dan mengukir patung manusia, bentuk dan corak wajahnya sangat menyerupai anaknya. Untuk mengenang putranya yang berumur pendek itu, ia menggerak-gerakkan boneka kayu tersebut sebagaimana ia pernah lakukan ketika anaknya masih hidup. Setiap bulan purnama menampakkan diri dan bintang-bintang bertaburan di langit, si ayah duduk di depan rumah dikelilingi oleh penduduk kampung. Dia menarik-narik lengan dan anggota tubuh boneka kayunya, sehingga kelihatan seperti orang yang sedang menari-nari. Semua yang hadir merasa iba dan turut bersedih hati. Para pria terenyak menyaksikan hal tersebut tanpa mengucapkan sepatah kata karena turut bersedih., Ibu-ibu sambil duduk ikut menangis tersedu-sedu, karena anak tunggal itu telah pergi dan tidak akan pernah kembali lagi.
Tarian boneka duka itu berlanjut terus dari waktu ke waktu, dan ditiru oleh orang-orang yang mengalami penderitaan yang sama seperti si ayah, suatu cara melampiaskan kerinduan kepada putranya yang sudah tiada.
Semakin lama boneka duka semakin disempurnakan, wajahnya diperindah, tariannya juga dibuat bertambah gemulai. Tarian boneka duka semakin bertambah lentik tak ubahnya seperti kupu-kupu yang sedang mengibas-ngibaskan sayapnya, dan boneka itu diberi nama Sigalegale (gale artinya lemah, tetapi dapat juga diartikan lentur-gemulai, karena jari-jarinya bergerak cekatan seperti penari serimpi).
Lama kelamaan Sigalegale tidak berfungsi hanya sebagai pelipur lara mengenang anak yang sudah tiada, tetapi juga berfungsi untuk menangkal malapetaka dan mengusir hal-hal yang buruk (papurpur sapata).
Sigalegale yang terbuat dari patung kayu, menggambarkan seorang manusia lengkap dengan tangan dan kaki yang dapat digerak-gerakkan. la berdiri di atas sebilah papan kayu yang mempunyai roda, sehingga dapat ditarik maju-mundur. Kepala boneka tersebut juga terbuat dari kayu (bentuknya tidak begitu halus), tetapi matanya dari logam (seng). Wajahnya dibungkus dengan kapur putih yang dilumuri dengan kuning telur bercampur kunyit. Di atas kepalanya dililitkan sejenis ulos, yang disebut tali-tali. Leher patung yang bentuknya seperti alu, dimasukkan ke dalam sebuah tiang atau pasak yang sudah diberi lubang, sehingga leher dan kepala dapat berputar ke segala arah. Pada badan boneka diikatkan dua tangan dari kayu berwarna cokelat tua; siku dan pangkal bahu dapat digerak-gerakkan ke atas maupun ke bawah, demikian juga jari-jarinya sangat lentur bila menari. Seorang pemegang tali kendali, duduk di belakang Sigalegale; dengan piawainya dia dapat menggerak-gerakkan seluruh tubuh boneka tersebut mulai dari kepala, tangan dan bahu.
Orang Batak yang animis percaya, orang yang meninggal tanpa keturunan akan masuk ke dalam Banua Toru bersama begu (roh jahat) yang derajatnya paling rendah. Mereka tidak diberi nama. Di alam begu, derajat seorang roh sangat tergantung pada jenis dan banyaknya sesajen yang dipersembahkan keturunan atau keluarga kepadanya. Jika tidak ada keturunan yang mempersembahkan sesajen atau kurban kepada orang yang meninggal, maka derajatnya di dunia roh dianggap rendah dan tidak mungkin melebihi roh-roh lain. Akibatnya dia akan disamakan dengan roh jahat yang hina-dina. Supaya roh tersebut tidak sakit hati dan menaruh dendam kepada keluarganya yang tidak mempersembahkan kurban secara rutin, keluarganya berusaha memperdaya roh jahat. Diciptakan sebuah boneka kayu yang diberi peran sebagai anak kandung almarhum. Di atas mata boneka tersebut, ditempelkan lumut berisi air dan jika ditekan akan mengeluarkan air, seakan-akan air matanya jatuh bercucuran. Patung kayu itu dibuat seakan-akan dia adalah anak kandung almarhum yang sedang meratapi ayahnya. Dia menari dengan menggerakkan jari-jarinya yang lemah gemulai sehingga roh jahat terkecoh, dan mengira bahwa yang menari tersebut adalah anak almarhum. Selama acara kematian, boneka itu menari terus, maksudnya untuk memberi kedamaian kepada roh orang yang meninggal.
Jika seorang pria meninggal sebelum berumah tangga, berarti tidak mempunyai anak yang akan melanjutkan keturunannya. Di dunia roh dia akan dihina bahkan dikucilkan dari lingkungannya karena dianggap roh yang tidak berguna. Untuk menghiburnya supaya merasa aman dan damai, keluarga terdekat menempatkan sebuah joro (rumah tradisional dalam bentuk mini) di atas kuburannya. Pada joro itu digantungkan berbagai persembahan dan sesajen serta barang yang biasa dipakai almarhum sewaktu masih hidup. Lebih kurang dua bulan setelah kematian pria tersebut, diadakan pesta tarian Sigalegale di kampung. Semua keluarga dan sanak saudara serta seisi kampung diundang turut serta. Tamu-tamu disuguhi jamuan makan dan tuak yang berlimpah. Pesta itu berlangsung selama satu minggu, diiringi gondang Batak (orkes Batak). Sigalegale menari tiada henti-hentinya, di siang hari di bawah pohon hariara, di malam hari di udara terbuka diterangi bintang di langit. Pada hari terakhir tuan rumah membagi-bagikan daging kepada semua yang hadir. Sementara itu kepada Sigalegale dikenakan pakaian adat yang indah bertatakan perhiasan. Di pelataran kampung, Sigalegale menari terus diikuti “suhut (tuan rumah)”, beserta keluarga dan sanak saudara. Di penghujung acara semua yang hadir berpawai menuju kuburan, di barisan paling depan terlihat Sigalegale beserta joronya digotong beramai-ramai. Setelah tiba di makam, dipanjatkan doa takzim (tonggo-tonggo) memohon kepada roh leluhur supaya tidak terulang lagi nasib sial, meninggal sebelum memperoleh keturunan. Setelah selesai melakukan tugasnya, orang yang mengendalikan Sigalegale, bergegas pergi ke luar kampung; di sanalah dia mengasingkan diri selama satu malam. Tak seorang pun berani menampungnya di kampung, karena dianggap masih dirasuki oleh roh-roh orang mati yang belum puas dengan acara pesta kematian. Di kesunyian malam, roh-roh itu meninggalkannya tergeletak sendirian di lapangan terbuka.
III. Penutup
Perlu kita ketahui bahwa masyarakat Batak sangat kaya akan kebudayaan. Salah satunya adalah kebudayaan berupa legenda atau mitos. Legenda merupakan suatu cerita dari generasi ke generasi suatu bangsa atau suku, khususya masyarakat Batak. Legenda Sigalegale merupakan suatu warisan yang sangat berharga bagi orang Batak, karena dalam legenda tersebut tersimpan suatu bentuk kehidupan orang-orang Batak pada masa dulu dan tentunya masih memberi makna pada kehidupan sekarang dan akan datang.
Sigalegale yang pada saat ini menjadi sumber objek wisata di Tomok sesungguhnya dulu adalah suatu patung yang memiliki kesan magis dimana dalam pembuatannya itu digabungkan kekuatan batin tujuh orang dukun ternama pada masa itu sehingga patung itu dapat bergerak sendiri. Patung tersebut memberikan suatu pesan kehidupan yang menjunjung tinggi silsilah atau garis keturunan keluarga. Begitu besarnya kedudukan laki-laki dalam orang Batak sehingga patung Sigalegale tercipta sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam dari keluarga yang kehilangan garis keturunannya.
Begitu juga dengan unsur-unsur yang digunakan untuk membuat sebuah patung. Bagi orang Batak, misalnya “kuning telur”, mempunyai arti tersendiri bagi orang Batak yaitu sebagai simbol kehidupan dan unsur kuning telur menunjukkan raut wajah yang cerah dan lebih hidup. Begitu juga dengan warna “putih, merah dan hitam”. Bagi orang Batak, warna-warna tersebut mempunyai arti tersendiri.
Ada umpama/umpasa orang Batak mengatakan: “Ompu Raja di jolo martungkot sialagundi; Angka na uli tinonahon ni angka ompunta na parjolo, siihuthonon ni hita angka na di pudi”. Maka dengan itu, kita sebagai orang Batak, hendaknya ikut berperan serta dalam melestarikan budaya kita dan menjunjung tinggi kebudayaan kita, karena hal itu sangatlah berharga bagi kita. Satu hal lagi umpama/umpasa orang Batak mengatakan: “Sinuan bulu, sibahen na las; Sinuan adat dohot uhum, sibahen na horas”. Dari umpama/umpasa tersebut kita bisa mengetahui bahwa, legenda-legenda atau mitos-mitos yang ada dalam orang Batak mempunyai tujuan yang baik bagi kita semua.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...